“Alhamdulillah… akhirnya sarapannya ready. Monggo, lur!”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi pelanggan Warung Kopi Cak Rochim di Pekauman, Gresik, dampaknya hampir setara dengan pengumuman THR yang cair. Bedanya, kalau THR datang setahun sekali, Lontong Gado-gado ini datang setiap pagi.
Ajaibnya lagi, sebelum kerupuk dipatahkan, para pelanggan sudah lebih dulu “memakan” berita. Berita harga cabai, berita tetangga yang baru beli motor, sampai berita yang sumbernya masih dirahasiakan demi keamanan narasumber. Untung tidak ada yang menyiarkan _breaking news_ soal siapa yang tadi pagi dimarahi istrinya gara-gara lupa beli kelapa.
Di Warung Kopi Cak Rochim, kopi memang diseduh. Tetapi obrolan? Itu tidak pernah diseduh. Tahu-tahu sudah matang sendiri.
Seporsi Lontong Gado-gado datang di atas piring. Lontong yang empuk dipadukan dengan sayuran, tahu, telur rebus, lalu disiram bumbu kacang yang kental. Di atasnya bertengger kerupuk besar yang ukurannya seperti sengaja diciptakan agar orang di sebelahnya tahu kalau kita sedang sarapan. Sekali digigit…
“Kriuuuk…”
Kalau bunyi kerupuknya belum terdengar di tiga meja, berarti gigitannya masih kurang mantap.
Yang menarik, penelitian Chofiyana, Ariyani, dan Widodo (2024) menyebut bahwa budaya ngopi di Gresik sebenarnya bukan sekadar budaya minum kopi. Warung kopi adalah ruang untuk bersosialisasi, bertukar cerita, dan menjaga hubungan antarmanusia.
Nah, teori ini langsung terbukti pada Cak Rochim.
Ada pelanggan yang datang dengan wajah kusut. Lima belas menit kemudian, sudah tertawa sampai hampir keselek kerupuk. Masalahnya mungkin belum selesai. Tapi minimal sekarang punya teman buat mengeluh bareng.
Coffee shop modern biasanya menawarkan signature coffee.
Warung Kopi Cak Rochim menawarkan signature conversation.
Topiknya tidak pernah habis.
Hari ini Perancis kalah.
Besok harga beras.
Lusa mungkin Argentina atau Spanyol.
Besoknya lagi balik ke harga beras.
Siklusnya lebih konsisten daripada musim hujan.






