AYODESA.COM — Banyak kampung kehilangan warganya bukan karena mereka pindah rumah. Kampung itu kehilangan mereka karena berhenti sarapan, bercakap, dan tertawa bersama setiap pagi.
Sebuah kampung tidak dibangun hanya oleh deretan rumah. Ia dipelihara oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang membuat warganya terus saling bertemu.
Pagi ini ada yang datang sedikit terlambat ke Warung Kopi Pak Rochim, Pekauman Gresik. Sepintas sederhana. Namun, konsekuensinya cukup berat: bangku di dalam sudah habis, sementara bangku di luar juga hampir penuh oleh pelanggan yang sepertinya sudah “check-in” sejak matahari masih malu-malu muncul.
Di bangku panjang itu duduk orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang baru selesai jalan pagi, ada yang pulang dari masjid, ada yang hendak membuka toko, ada pula yang kelihatannya memang profesinya ahli menikmati kopi sambil mengomentari apa saja.
Yang menarik, tidak ada yang terlihat terburu-buru. Padahal sebagian besar dari mereka pasti punya pekerjaan yang menunggu, tetapi pagi seolah mendapat dispensasi untuk berjalan sedikit lebih lambat.
Kalau ada orang baru datang, bangku langsung bergeser beberapa sentimeter. Tidak ada tulisan “*Reserved*”, tidak ada meja khusus pelanggan tetap, apalagi ruang VIP. Aturan di sini sederhana: kalau masih bisa duduk, berarti masih keluarga. Di atas meja tersaji *sego karak*. Banyak orang mengira makanan ini berasal dari nasi sisa yang dijemur seperti nasi aking, padahal anggapan itu kurang tepat.
Bagi orang Gresik, sego karak adalah menu sarapan yang memang dibuat khusus dari beras baru. Ada yang putih, ada yang hitam karena dipadukan dengan ketan hitam, lalu disajikan bersama kelapa parut, poya, godho tempe, atau bali welut yang membuat sarapan sederhana berubah menjadi luar biasa.
Kelihatannya memang sederhana. Sejarah kuliner selalu mengajarkan bahwa makanan yang paling sederhana sering kali memiliki cerita yang paling panjang.
Heinz von Holzen dan Lother Arsana (2006) menulis bahwa hampir tidak ada masakan Indonesia yang benar-benar lahir tanpa pengaruh budaya lain. Rempah-rempah datang dari Arab dan India, cabai dari Dunia Baru melalui bangsa Eropa, sementara mi dan kecap diperkenalkan oleh masyarakat Tiongkok. Tetapi ada satu bahan yang tidak pernah diimpor dari mana pun. Namanya adalah kenangan.






