Rupiah Tertekan Usai BI Tahan Suku Bunga, Dolar AS Menguat di Tengah Gejolak Timur Tengah

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi.

AYODESA.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2026). Rupiah ditutup melemah 65 poin ke level Rp17.920 per dolar Amerika Serikat (AS), dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.888 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong investor mencari aset aman.

Bacaan Lainnya
Baca Juga  Tim Penyidik Kejagung Gelar Rekonstruksi Penyidikan Tindak Pidana Suap/Gratikasi PN Jakarta Pusat dan Perintangan Penanganan Perkara

“Indeks dolar AS menguat seiring pelaku pasar mempertimbangkan meningkatnya bentrokan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik yang terus meluas meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ujar Ibrahim dalam analisis pasar.

Menurutnya, pasukan AS telah melancarkan serangan terhadap target-target militer Iran selama sebelas malam berturut-turut. Sebagai balasan, Iran terus menyerang sejumlah posisi militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Tak hanya itu, ancaman kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran untuk melakukan blokade jalur pelayaran di Laut Merah turut memperburuk sentimen pasar.

Baca Juga  Bukti Keseriusan Gubernur Hidayat Arsani Tarik Investor! Turun Langsung Benahi Ruang Pelayanan di Belitung

“Ancaman blokade ini memicu kekhawatiran terhadap distribusi minyak dunia karena sejumlah kapal tanker mulai mengubah rute pelayaran. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global,” jelasnya.

Ibrahim menambahkan, gangguan di kawasan Laut Merah dan Selat Hormuz mendorong harga minyak tetap tinggi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran inflasi global sehingga memperbesar ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

“Pasar kini memperkirakan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan mencapai sekitar 78 persen, sedangkan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di kisaran 68 persen,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *