Paus Datang Menampar Kleptokrasi

 

PERTAMA ke Vatican City di Roma pada 1992, antrian masuk jazirah negara itu tak panjang. Pengamanan pun tidak seperti dunia setelah 911, 2001.

Kali pertama ke sana itu saya masih dapat mengusap jemari kaki patung Santo Petrus. Bahan metalnya sebagian terasa rata, tak bergradasi, licin, dingin. Kunjungan berikutnya ke Mekahnya Umat Katolik itu, merasakan dingin kaki Santo itu momen langka.

Kini ajang mengusap kaki itu agaknya bagaikan mendapat kesempatan mencium Hajar Aswad, di Ka’bah bagi kami Umat Muslim.

Baca Juga  Saatnya “Menelanjangi” Kandidat

Kemarin, antara lain simbol Santo Petrus itu datang ke Indonesia.

Saya melalui konten IG cc FB, mengucapkan selamat datang. Pemberitaan baik media mainstream, konten Sosmed heboh akan kesederhanaan Yang Mulia Paus Fransiskus. Ia menumpak pesawat Al Italia, Garuda-nya kita. Di dalam pesawat ia berjalan ke kelas ekonomi menyapa tim rombongan menyertainya. Ia katakan sebagai lawatan terpanjangnya di udara.

Turun dari pesawat, ia menaiki Kijang Innova putih. Duduk di sampimg pak supir, membiarkan kaca mobil terbuka. Berjubah putih Kepausan, menikmati udara polusi Jakarta, dan ini: cuek akan kelembapan alam tropis. Ia melambaikan tangan, sehingga jam Swatch, merk favorit saya ini, jelas dijepret kamera wartawan.

Baca Juga  Fenomena Self-Diagnosis: Antara Kesadaran Kesehatan dan Risiko Salah Langkah

Sejak lama saya menyimak bisnis Vatican, antara lain melalui liputan Majalah Fortune. Dulu ketika membaca Novel Mario Puzo, membuat saya penasaran berjalan di lorong bangunan tua Vatican manca-ragam patung master piece, value art-nya jauh dari ratusan miliar dolar, uang kekayaan Vatican, sebagaimana acap diberitakan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *