Mengenang Luka Lama: Kekalahan Belanda 2010 atas Spanyol. Sakitnya Sampai Ke Tulang.
Oleh: Geisz Chalifah
Saya pulang malam itu dengan langkah yang jauh lebih berat daripada saat berangkat. Rasa kecewa begitu dalam. Kekalahan itu terasa lebih berat daripada putus cinta. Toh, di masa SMA atau kuliah, patah hati biasanya tak berlangsung lama. Cepat atau lambat akan datang penggantinya.
Bahkan, rasanya lebih menyakitkan daripada kehilangan sound system mobil yang tiba-tiba digondol maling. Barang itu masih bisa dibeli lagi. Tetapi kesempatan Belanda menjadi juara dunia malam itu tak mungkin terulang.
Mungkin terdengar berlebihan. Tetapi begitulah menjadi penggemar sepak bola. Kita ikut tertawa ketika tim menang, ikut tegang sepanjang pertandingan, dan ikut remuk ketika mereka kalah. Benarlah syair lagu dangdut itu: merananya sampai ke tulang.
Luka itu membawa saya kembali ke malam 11 Juli 2010 di Johannesburg, ketika Belanda tinggal selangkah lagi mengangkat trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan menjadi salah satu pencapaian terbaik Tim Nasional Belanda dalam sejarah sepak bola modern. Di bawah asuhan Bert van Marwijk, Tim Oranye tampil konsisten sejak fase grup hingga berhasil mencapai partai final.
Pada babak penyisihan grup, Belanda tergabung di Grup E bersama Denmark, Jepang, dan Kamerun. Mereka membuka turnamen dengan kemenangan 2–0 atas Denmark melalui gol bunuh diri Daniel Agger dan gol Dirk Kuyt. Pada pertandingan kedua, Belanda mengalahkan Jepang 1–0 berkat gol Wesley Sneijder. Di laga terakhir fase grup, Belanda menundukkan Kamerun 2–1 melalui gol Robin van Persie dan Klaas-Jan Huntelaar. Tiga kemenangan dari tiga pertandingan mengantarkan Belanda menjadi juara Grup E dengan koleksi sembilan poin.
Arjen Robben, salah satu pemain terbaik Belanda, belum tampil pada dua pertandingan pertama karena masih menjalani pemulihan cedera. Ia baru dimainkan saat menghadapi Kamerun sebagai pemain pengganti. Sejak babak gugur, Robben menjadi pembeda lewat kecepatan, kreativitas, dan gol-gol pentingnya.
Pada babak 16 besar, Belanda mengalahkan Slovakia 2–1 melalui gol Arjen Robben dan Wesley Sneijder. Di perempat final, mereka menghadapi salah satu favorit juara, Brasil. Sempat tertinggal lebih dahulu, Belanda bangkit dan membalikkan keadaan menjadi 2–1 melalui gol bunuh diri Felipe Melo dan gol Wesley Sneijder.
Kemenangan itu membawa Belanda ke semifinal menghadapi Uruguay. Dalam pertandingan yang berlangsung sengit, Belanda menang 3–2 melalui gol Giovanni van Bronckhorst, Wesley Sneijder, dan Arjen Robben. Hasil tersebut mengantarkan Belanda ke final Piala Dunia untuk ketiga kalinya dalam sejarah.
Di partai puncak, Belanda berhadapan dengan Spanyol. Pertandingan berlangsung ketat hingga babak perpanjangan waktu. Namun, gol Andrés Iniesta pada menit ke-116 memastikan kemenangan 1–0 bagi Spanyol. Belanda kembali harus puas menjadi runner-up setelah menampilkan perjuangan luar biasa sepanjang turnamen.
Skuad Belanda saat itu diperkuat Maarten Stekelenburg, Michel Vorm, Sander Boschker, Giovanni van Bronckhorst (kapten), John Heitinga, Joris Mathijsen, Gregory van der Wiel, Khalid Boulahrouz, André Ooijer, Edson Braafheid, Mark van Bommel, Nigel de Jong, Wesley Sneijder, Rafael van der Vaart, Ibrahim Afellay, Demy de Zeeuw, Stijn Schaars, Arjen Robben, Robin van Persie, Dirk Kuyt, Klaas-Jan Huntelaar, Eljero Elia, dan Ryan Babel.
Keberhasilan Belanda mencapai final tidak lepas dari kontribusi para pemain kuncinya. Wesley Sneijder menjadi motor serangan sekaligus pencetak lima gol sepanjang turnamen. Arjen Robben tampil gemilang setelah pulih dari cedera. Mark van Bommel dan Nigel de Jong menguasai lini tengah, sementara Robin van Persie, Dirk Kuyt, serta Maarten Stekelenburg memberikan kontribusi besar. Giovanni van Bronckhorst memimpin tim dengan pengalaman dan ketenangannya sebagai kapten.






