Mengapa Kita Terus Membeli Kehidupan Orang Lain?

Foto istimewa

AYODESA.COM — Apa barang paling mahal yang pernah Anda beli?

Sebagian orang mungkin menjawab rumah. Ada yang menyebut mobil. Kalau sedang nekat, mungkin jam tangan atau tas bermerek. Saya belum pernah mendengar ada orang berkata, “Saya baru saja membeli kursi.”

Bacaan Lainnya

Morgan Housel, penulis _The Psychology of Money_ dan _The Art of Spending Money_, pernah bekerja sebagai petugas valet di sebuah hotel mewah di Los Angeles. Di sanalah ia menyaksikan seorang tamu membeli sebuah kursi seharga sekitar US$21.000.

Melihat wajah para petugas yang melongo, pria itu hanya tersenyum dan berkata, _”Kalau sudah punya uang, memang beginilah seharusnya.”_

Baca Juga  Satgas TMMD ke-127 Kodim 0432/Basel Percepat Pengerjaan Jalan di Pulau Lepar Toboali

Saya tidak berhenti pada harga kursinya. Saya justru berhenti pada satu kata yang terdengar sepele.

Seharusnya.

Mungkin lebih banyak uang habis karena kata “seharusnya” daripada karena inflasi.

Usia tiga puluh seharusnya sudah punya rumah. Manajer seharusnya naik SUV. Direktur seharusnya memakai jam tangan Swiss. Liburan seharusnya ke Jepang atau Eropa, bukan sekadar ke rumah nenek. Bahkan ulang tahun anak kadang terasa seharusnya dirayakan di hotel agar fotonya pantas diunggah ke media sosial.

Lucunya, kita sering tidak bertanya apakah barang itu berguna. Yang kita tanyakan justru: “Kalau saya tidak membelinya, apa kata orang?” Kita membeli agar cerita hidup kita terlihat sesuai dengan harapan orang lain.

Baca Juga  OJK Sanksi PT Dana Mitra Kencana Miliaran Rupiah Terkait Manipulasi Harga di Pasar Modal

Housel menceritakan kisah lain yang tak kalah menarik. Seorang perempuan menjalani operasi LASIK dengan harapan hidupnya berubah. Operasinya berhasil. Ia bisa melihat dunia tanpa kacamata. Namun, beberapa minggu kemudian ia kembali menemui dokter sambil berkata, “Operasi ini merusak hidup saya.”

Masalahnya ternyata bukan pada mata. Selama ini ia membayangkan bahwa tanpa kacamata suaminya akan lebih mencintainya dan rekan kerjanya akan lebih menghormatinya. Ketika kenyataan tidak berubah, ia menyalahkan operasinya. Dokternya hanya berkata singkat, “Masalah Anda bukan pada mata.”

Baca Juga  PN Sungailiat Vonis Residivis Narkotika 18 Tahun Penjara dan Denda Rp1 Miliar

Saya rasa banyak dari kita diam-diam juga sedang menjalani “LASIK finansial”. Kita percaya bahwa kenaikan gaji, rumah yang lebih besar, atau mobil yang lebih mahal akan secara otomatis membuat hidup terasa lebih lengkap. Ketika semua itu akhirnya dimiliki, yang berubah sering kali hanya angka di rekening. Kekhawatiran tetap muncul, hanya dengan mengenakan pakaian yang lebih mahal.

Rupanya otak memang cepat bosan.

Mobil baru hanya terasa baru selama beberapa minggu. Rumah baru perlahan berubah menjadi rumah biasa. Gaji yang dulu terasa besar akhirnya terasa pas-pasan.

Brickman dan Campbell (1971) menyebut kecenderungan ini sebagai _hedonic adaptation_.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *