AYODESA.COM, LOMBOK – Ekosistem mangrove dinilai memiliki peran strategis sebagai biofilter alami yang mampu menyerap dan mengurai limbah perairan. Pemanfaatan mangrove dinilai menjadi solusi efektif untuk menekan dampak pencemaran dari aktivitas budidaya laut yang kian intensif.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Budidaya Laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Moh. Awaludin Adam, menjelaskan bahwa aktivitas budidaya laut seperti ikan, udang, dan rumput laut menghasilkan limbah organik maupun anorganik.
“Kegiatan budidaya laut secara intensif seperti budidaya ikan, kemudian udang maupun rumput laut secara tidak langsung itu akan menghasilkan limbah organik dan anorganik yang berasal dari sisa pakan. Kemudian ada metabolisme organisme serta beberapa bahan pendukung lainnya,” ujar Awaludin dalam Webinar Ocean Farm X, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, akumulasi limbah tersebut dapat memicu eutrofikasi, yakni kondisi meningkatnya kadar nutrien seperti nitrogen dan fosfor secara berlebihan di perairan. Kondisi ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan kesehatan organisme budidaya.
Dampak lanjutan dari eutrofikasi adalah hipoksia atau penurunan kadar oksigen terlarut yang dapat menyebabkan stres hingga kematian massal organisme budidaya. Selain itu, penurunan kualitas air juga meningkatkan risiko berkembangnya patogen.
Sebagai solusi, Awaludin menawarkan pendekatan berbasis ekosistem dengan memanfaatkan mangrove sebagai biofilter alami.
“Salah satu pendekatan yang potensial di sini adalah bagaimana kita memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai biofilter alami yang mampu menyerap, mengendapkan, dan menguraikan limbah serta polutan,” jelasnya.
Ia juga memaparkan sejumlah strategi budidaya laut berkelanjutan, seperti penerapan sistem Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA), rehabilitasi mangrove, serta pengaturan zonasi budidaya sesuai daya dukung lingkungan. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan implementasi.
BRIN sendiri telah melakukan riset komprehensif untuk mendukung strategi tersebut, mulai dari monitoring kualitas air, analisis polutan, uji lapang, hingga pemodelan lingkungan.






