Koalisi Masyarakat Sipil Tolak Rencana Menkeu Tambah Golongan Rokok Murah

Gambar animasi Chat GPT

AYODESA.COM, JAKARTA – Rencana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk menambah lapisan (layer) tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) menuai penolakan keras dari Koalisi Masyarakat Sipil. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menghadirkan rokok dengan harga semakin murah dan menjadi kemunduran serius dalam upaya pengendalian konsumsi tembakau.

Koalisi yang terdiri dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI), Komnas Pengendalian Tembakau, Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), Seknas FITRA, serta SDH FKM UI menilai penambahan layer cukai justru memperpanjang persoalan rokok murah di Indonesia.

Bacaan Lainnya
Baca Juga  Jadi Saksi Kasus Pertamina, Ahok Akui Temukan Kejanggalan Impor dan Penyewaan Terminal BBM

Founder dan CEO CISDI, Diah Saminarsih, menegaskan banyaknya lapisan tarif cukai selama ini membuat rokok tetap terjangkau meskipun tarif dinaikkan.

“Riset CISDI menunjukkan banyaknya layer cukai menyebabkan rokok tetap murah. Penambahan layer justru menghadirkan semakin banyak rokok harga rendah. Ini rencana yang sangat keliru. Seharusnya pemerintah menyederhanakan tarif cukai menuju cukai tunggal sesuai standar WHO, bukan malah menambah lapisan baru,” ujar Diah, pada pernyataan tertulisnya, Jumat (16/1/2026).

Ia menambahkan, saat ini rokok masih bisa dibeli dengan harga mulai Rp10.000 per bungkus, kondisi yang dinilai sangat berisiko meningkatkan konsumsi rokok, terutama pada anak-anak dan masyarakat prasejahtera.

Baca Juga  Terungkap Sejak 2021 Persiapan Pemekaran Bangka Utara Mandek, Pj Bupati Bentuk Tim Percepatan

“Kebijakan ini bertentangan dengan upaya perlindungan kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Senada, Ketua PKJS UI Aryana Satrya menyebut struktur cukai berlapis justru menjadi jalan pintas bagi perokok untuk beralih ke rokok yang lebih murah, bukan berhenti merokok.

“Downtrader atau perokok yang mengalihkan konsumsi ke rokok murah berpeluang 5,75 kali lebih besar untuk terus merokok dibandingkan perokok yang memilih berhenti,” jelas Aryana.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *