Kepahlawanan yang Kita Butuhkan Hari Ini

Foto istimewa

AYODESA.COM — Kemarin sore saya menonton The Odyssey bersama anak perempuan saya. Film itu bercerita tentang perang. Tetapi yang paling saya ingat justru bukan peperangannya.

Tiket sudah kami pesan seminggu sebelumnya. Pengalaman menonton film-film Christopher Nolan mengajarkan bahwa menikmati sebuah karya besar membutuhkan persiapan, bahkan untuk urusan sederhana seperti memilih kursi. Di tengah film saya sempat keluar menuju musala untuk menunaikan salat Asar. Ada beberapa adegan yang terlewat. Anehnya, ketika lampu bioskop menyala, saya merasa tidak kehilangan bagian terpenting dari cerita.

Bacaan Lainnya

Saya justru pulang membawa sebuah pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya:  mengapa Odysseus dikenang sebagai pahlawan, padahal ia bukan manusia terkuat?

Pertanyaan itu terasa semakin relevan hari ini.

Kita hidup di zaman yang mengagungkan kekuatan. Pemimpin dipuji karena ketegasannya. Pengusaha dikagumi karena keberaniannya dalam mengambil risiko. Di media sosial, suara yang paling lantang sering kali dianggap paling benar. Seolah-olah kehidupan adalah perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kuat.

Baca Juga  Nono Ungkap Wacana Kerjasama Antara PT Timah Dengan Smelter Swasta

Namun, “The Odyssey” menawarkan sebuah paradoks.

Dalam tradisi Yunani, epos yang diatribusikan kepada Homer ini justru menjadikan Odysseus, bukan Achilles sebagai tokoh yang paling dikenang. Achilles hampir tak terkalahkan di medan perang. Odysseus tidak. Ia terluka, tersesat, kehilangan hampir semua anak buahnya, dan baru tiba di Ithaca setelah 20 tahun.

Sendirian.

Bahkan ketika pulang, ia tidak disambut sebagai raja, melainkan harus menyamar sebagai seorang pengemis.

Mengapa justru dia yang menjadi simbol kepahlawanan?

Jawabannya terletak pada satu kata yang nyaris tidak memiliki padanan sempurna dalam bahasa kita:  mêtis.

Métis bukan sekadar kecerdasan. Ia adalah kecerdasan yang bekerja di tengah ketidakpastian. Kemampuan membaca situasi sebelum bertindak. Keluwesan mengubah strategi ketika keadaan berubah. Kecakapan memilih kata ketika orang lain memilih untuk marah. Keberanian menunda tindakan demi hasil yang lebih baik. Dan, mungkin yang paling penting, kemampuan membedakan antara apa yang tampak dan apa yang sesungguhnya.

Baca Juga  Terungkap, PT Tirus Putra Mandiri dan PT Artha Cipta Langgeng ikut Kerjasama dengan RBT

Homer tidak menjelaskan  METIS secara definitif.

Ia menunjukkannya melalui kisah.

Ketika kembali ke Ithaca, Odysseus tidak langsung merebut tahtanya. Dengan bantuan Athena, ia memilih menyamar sebagai pengemis tua. Ia rela dihina di rumahnya sendiri agar dapat melihat siapa yang masih setia dan siapa yang telah berkhianat. Ia memahami bahwa tindakan yang benar membutuhkan pemahaman yang benar. Dalam kepemimpinan, mengetahui keadaan sering kali lebih penting daripada menunjukkan kekuasaan.

Pelajaran yang sama tampak ketika ia terjebak di gua Cyclops Polyphemus. Setelah beberapa anak buahnya dimangsa, menyerang tampak menjadi pilihan paling berani. Namun, Odysseus menyadari bahwa membunuh sang raksasa hanya akan membuat mereka tetap terperangkap di dalam gua.

Baca Juga  PH Waldus Situmorang: Semua Tindakan Jimmy Masrin Sesuai Hukum Kepailitan dan Itikad Baik

Maka ia memilih jalan lain. Ia memabukkan Polyphemus, memperkenalkan dirinya sebagai “Tidak Seorang Pun”, lalu membutakan mata raksasa itu.

Ketika Polyphemus berteriak meminta pertolongan, para Cyclops lain mengira tidak ada yang menyerangnya. Dalam kisah ini, kecerdikan mengalahkan kekuatan, dan permainan bahasa lebih ampuh daripada ayunan pedang.

Tetapi kisah yang paling menyentuh saya justru datang dari Siren.

Odysseus tidak pernah berkata bahwa dirinya cukup kuat untuk menolak godaan.

Sebaliknya.

Ia mengakui bahwa dirinya bisa gagal.

Karena itu, ia meminta anak buahnya menutup telinga mereka dengan lilin. Sementara dirinya sendiri diikat kuat-kuat pada tiang kapal dan memerintahkan agar ikatan itu tidak dilepas, sekalipun nanti ia memohon.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *