Oleh: Iwan Piliang
KETIKA berhenti menjadi jurnalis di grup TEMPO, tepatnya SWA, pada 1989, di 10 Novembernya, saya membuat perusahaan bergerak di bidang Merketing Communication; jasa di kehumasan, personal branding, iklan.
Kami bertanding dengan jasa papan atas, mereka berafiliasi asing, bertemu dalam beberapa kali pitching. Di antara portofolio; launching Agrobank, 1990, meyakinkan produk Sarung pertama beriklan di teve, yakni Sarung Mangga, baru kompetitor lain mengikuti, seperti Gajah Duduk, Atlas. Mangga milik keluarga Yahya Azzubaidi, keturunan Yaman, pabrikya di Pekalongan. Belakangan Mangga dijual, keluarga Yahya fokus ke merk Wadimor – – hingga kini merk ini masih masif beriklan di teve.
Pada 1994 saya melihat jasa demikin posisi tangan masih berada di bawah. Saya mencari produk tak dikerjakan banyak orang; masuk ke industri serial animasi. Sempat mendirikan Asosia Animasi dan Konten Indonesia @ainaki_indonesia .
Perjalanan usaha bisa naik dan turun.
Reformasi membuat greget komunikasi massa begitu menggugah.
Era Sosmed lalu berkibar.
Orang belum buat konten Youtube, saya sudah punya Presstalk. Taat kaedah berpemahaman bahwa income independen harus dari produk masuk pasar, maka segala konten Sosmed saya anggap sebagai laku, kerja, sosial. Maksudnya bukan menjadi sumber income, walau kini banyak miliarder lahir sebagai Youtuber
Karena mengenal produk Pak @jokowi di Global Village Dubai, Desember 2008, terbetik di benak, figur punya produk masuk pasar, income mandiri, dapat mengubah bangsa. Pulang ke tanah air saya cari orangnya, dari sana berawal kami membangun tim klendestein konten, media, Sosmed: membuat konten empirik, kreatif inovatif, berpegang ke pondasi dasar komunikasi massa; hati nurani, akal dan budi.
Merujuk jejak digital saya di barisan depan menjagokan Pak Jkw 2009 awal hingga 2014. Termasuk saya pertama mengatakan Jkw Presiden diretui Alam, masih di 2012 kala baru menjabat Gubernur @dkijakarta
Ketika terjadi pergeseran kejokowian dugaan saya pelaku utamanya tim di Rumah Transisi (partai pendukung dan tokoh-tokoh), saya mengkritisi kebijakan di awal, medio Februari 2015. Mengingatkan akan perubahan kejokowian;
Rumusan kami diamini Pak Jkw, kejokowian itu memuliakan ketulusan keinsanan.
Mengingatkan pergeseran itu, kemudian lahirlah buzzer, dugaan saya laksana tukang, tukang tulis, tukang image, bar-bar alam konten hingga buzzeRp kita nikmati: sosoknya pun kini entah ke mana. Dan saya lalu menikmati perbulian secara nasional masif. Padahal saya hanya mengkritisi kebijakan agar di tengah konsisten kejokowian, pun di akhir bagus berhasil.




