AYODESA.COM, JAKARTA — Di tengah tekanan pasar saham akibat ketidakpastian global, kinerja Bursa Karbon justru menunjukkan geliat positif. Sepanjang Maret 2026, nilai transaksi Bursa Karbon tercatat mencapai Rp93,71 miliar, menjadi sinyal meningkatnya minat pelaku pasar terhadap instrumen ekonomi hijau.
Berdasarkan keterangan resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis Senin (6/4/2026), volume transaksi karbon pada Maret 2026 bertambah sebesar 43.117 ton setara CO2 (tCO2e). Secara kumulatif sejak diluncurkan pada 26 September 2023 hingga 31 Maret 2026, Bursa Karbon telah memiliki 153 pengguna jasa terdaftar.
OJK menilai, stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga meskipun dihadapkan pada dinamika global dan domestik. Namun, volatilitas pasar masih tinggi seiring berlanjutnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.048,22 pada akhir Maret 2026, terkoreksi 14,42 persen secara bulanan (mtm) dan 18,49 persen secara tahunan berjalan (ytd).
Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) tercatat sebesar Rp20,66 triliun, menurun dibandingkan Februari 2026 yang mencapai Rp25,62 triliun. Penurunan ini mencerminkan sikap wait-and-see investor di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi likuiditas, rata-rata bid-ask spread masih terjaga di level 1,55 kali, meskipun sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,24 kali.
Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp23,34 triliun sepanjang Maret 2026, berbalik arah dari bulan sebelumnya yang mencatat net buy sebesar Rp0,36 triliun. Lonjakan aksi jual ini dipengaruhi transaksi di pasar negosiasi pada sejumlah saham emiten.
Sementara itu, di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 433,16 atau turun 2,03 persen secara bulanan dan 1,74 persen secara ytd. Kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 44,47 basis poin (bps) secara bulanan mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor.
Investor nonresiden juga mencatatkan net sell sebesar Rp21,80 triliun di pasar SBN, sementara di obligasi korporasi justru terjadi net buy sebesar Rp0,92 triliun.






