AYODESA.COM, JAKARTA — Asosiasi Pengelola Dapur MBG 3T Indonesia resmi diperkenalkan kepada publik sebagai wadah kolaboratif untuk memperkuat sistem penyediaan pangan bergizi, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kehadiran asosiasi ini diharapkan mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam memastikan program pemenuhan gizi nasional berjalan optimal dan berkelanjutan.
Asosiasi ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari akademisi, praktisi, hingga pelaku usaha yang selama ini terlibat langsung dalam pengelolaan dapur dan layanan pangan. Selain menjadi ruang konsolidasi dan kolaborasi, asosiasi juga berperan sebagai jembatan komunikasi antara pelaku usaha dengan pemerintah.
Ketua Umum H. Onesimus M. Jong mengungkapkan bahwa program pembangunan dapur MBG telah menunjukkan capaian signifikan. Hingga saat ini, jumlah dapur yang terbangun telah melampaui 20.000 unit dengan sekitar 61,2 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
“Saat ini jumlah dapur yang terbangun sudah di atas 20.000 dengan penerima manfaat mencapai 61,2 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Meski menghadapi tantangan wilayah 3T, kami bersyukur pembangunan dan distribusi logistik tetap berjalan dengan baik,” ujarnya, saat memperkenalkan Asosiasi Pengelola Dapur MBG 3T, di wilayah Jakarta Selatan, Rabu (22/4/2026).
Ia menambahkan bahwa tantangan geografis di wilayah 3T memang menjadi kendala tersendiri, namun tidak menghambat jalannya program. Onesimus juga menyoroti pentingnya pengawasan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat dan media.
“Kami menyadari adanya persoalan seperti keracunan atau kualitas makanan, namun itu tidak merepresentasikan seluruh dapur yang ada. Justru ini menjadi bahan pengawasan agar pelayanan semakin baik,” tegasnya.
Lebih lanjut, Onesimus menekankan bahwa program dapur MBG tidak berorientasi pada keuntungan, melainkan sebagai bentuk pengabdian sosial untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak di daerah 3T.
“Pembangunan dapur ini bukan untuk mencari keuntungan, tetapi sebagai bentuk pengabdian sosial agar anak-anak di daerah 3T bisa mendapatkan makanan sehat dan mampu bersaing dengan anak-anak di kota,” katanya.






