Adidaya Institute Desak Kepala BGN Benahi Tata Kelola MBG, Ultimatum Mundur Jika Gagal

Direktur Politik dan Demokrasi Adidaya Institute Ahmad Fadhli (Berbaju Putih)

AYODESA.COM, JAKARTA – Adidaya Institute mendesak Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, segera melakukan pembenahan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Lembaga tersebut bahkan meminta Nanik mempertimbangkan mundur dari jabatannya apabila tidak mampu menyelesaikan persoalan tata kelola yang dinilai menjadi masalah utama dalam pelaksanaan program.

Direktur Politik dan Demokrasi Adidaya Institute, Ahmad Fadhli, mengatakan hasil survei lembaganya menunjukkan persoalan tata kelola menjadi tantangan terbesar dalam implementasi MBG. Karena itu, ia meminta Kepala BGN segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki sistem pengelolaan program.

Bacaan Lainnya
Baca Juga  Adidaya Institute: Big Bang dan Big Push Jadi Strategi Kebijakan Prabowonomics

“Kepala BGN Nanik S Deyang harus mampu mengurai masalah tata kelola utama MBG. Sesuai hasil survei Adidaya Institute, tata kelola MBG menjadi masalah utama dengan angka 24,9 persen. Jika masalah ini tidak mampu diselesaikan maka sebaiknya mundur sebagai Kepala BGN atau segera di-reshuffle oleh Presiden Prabowo,” ujar Ahmad Fadhli kepada awak media, Selasa (21/7/2026).

Meski mengkritisi tata kelola, Fadhli menegaskan Program Makan Bergizi Gratis harus tetap dilanjutkan. Menurutnya, program tersebut merupakan salah satu kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Baca Juga  Survei Adidaya Ungkap Dukungan Kuat MBG dan CKG, Publik Optimistis Ekonomi Membaik

Ia mengungkapkan, berdasarkan survei Adidaya Institute, tingkat pengenalan masyarakat terhadap Program MBG mencapai 98,3 persen. Sementara itu, sebanyak 67,6 persen responden menilai program tersebut memberikan dampak langsung bagi keluarga Indonesia.

“MBG tidak boleh dihentikan hanya karena korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat BGN. Jika ada tikus di lumbung padi, maka tikusnya yang ditangkap, bukan lumbung padinya yang dibakar,” tegasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *